Senin 11 Mar 2019 11:54 WIB

Wedhatama, Gombloh: Nasihat Raja Solo dalam Irama Rock

Mendiang Gombloh menasehati pemimpin dengan menyanyikan Wedhatama versi rock.

Red: Muhammad Subarkah
...
Foto: Gahetna.nil
Raja Pakubuwono X ketika berkunjung ke Masjid Luar Batang 1920

Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika

Mungkin generasi masa kini yang kerap disebut milienal asing dengan penyanyi asal Surabaya dan dedengkot Grup Musik Lemon Trees, Gombloh, alias Soedjarwoto Soemarsono. Lelaki ini lahir di kota  santri, yakni Jombang, Jawa Timur. Dia lahir pada tahun 1948 dan meninggal pada pertengahan 1980-an, seteleh merilis lagu hits legendaris ‘Ku Gadaikan Cintaku’.

Tapi sebelum merilis album yang berisi lagu ‘Ku Gadaikan Cintaku’, Gombloh sebenarnya sudah merilis begitu banyak album bersama grupnya. Pada masa awal, dalam band itu masih ada mendiang Franky Sahilatua dan Leo Kristy.

Tapi dalam beberapa waktu kemudian keduanya berpisah merintis jalur hidup dan popularitas masing-masing. Franky kemudian terkenal dengan berbagai album lagu balada yang manis mendayu. Sedangkan Leo Kristi eksis dengan lagu balada yang idenya mengambil dari lagu kehidupan tradisi rakyat dari berbagai daerah.

Khusus untuk Gombloh yang sempat berkuliah di Institut Teknologi Surabaya, memang sedikit unik. Dalam banyak album hingga pertengahan tahun 1980-an, dia bersikeras tak peduli akan selera pasar. Dia yakin akan seleranya sendiri.

Emha Ainun Nadjib yang mengenalnya pun sempat memakluminya. Bahkan dia menyandingkan Gombloh dengan tokoh kelahiran Jombang lainnya seperti Gus Dur, Nurchlish Madjid, Abu Bakar Baasyir, hingga pelawak legendaris Sri Mulat Asmuni. Katanya, orang Jombang begitu unik dan mandiri. Dan semua tahu Emha juga berasal dari Jombang.

Untuk soal lagu-lagu Gombloh yang kemudian menjadi hits bahkan bisa disebut berkategori sebagai lagu wajib seperti ‘Kebyar-Kebyar’, mendiang Leo Kristi dalam sebuah perbincangan di Gedung Kesenian Jakarta beberapa tahun silam mengatakan, Gombloh memang punya bakat besar dalam menulis lagu. Suara pun khas jernih melengking tinggi.’’Wajar kalau Gombloh begitu,’’ kata Leo Kristi sambil mendendangkan beberapa ketukan awal lagu ‘Kebyar-Kebyar’.

Hal sama juga diakui oleh mendiang Franky Sahilatua. Dalam sebuah perbincangan dia terus terang mengaku Gombloh sebagai super star.’’Kalau tidak keburu meninggal, Iwan Fals tak bisa jadi super star. Sebab, di sana masih ada Gombloh,’’ ujarnya.

Lalu apa hebatnya Gomboh? Salah satunya adalah dia dengan sadar sepenuhnya mencoba keluar dari kebiasaan selera musik pasaran atau musik industri saat itu. Dia mencoba genre musik baru dengan menulis dan mendendangkan syair di luar kebiasaan umum saat itu.

Ini hampir sama dengan apa yang dilakukan oleh Guruh Soekarnoputra dan Chrisye dengan band ‘Gypsi’-nya yang banyak menyelipkan larik kata Sansekerta hingga menulis syair berbahasa Bali lewat ‘Chopin Larung’. Tapi khusus untuk Gombloh ada yang bernuansa lain, atau pada karya Guruh yang lain, 'Smaradahana" yang menyelipkan kata 'Ratih dewi citra khayalku prana'.

Namun, khusus untuk Gombloh, memang terasa ada kedalaman pencarian, perenungan, kegeniusan dan keliaran fantasi. Gombloh berani mendendangkan tembang Jawa klasik yang dianggap 'sakral' yang itu ada dalam ‘Wedhatama’ karya Raja Mangku Negara IV.

Lagu ini bagi orang Jawa penuh misteri dan banyak dihapal rakyat di luar kepala. Biasanya lagu dinyanyikan dalam balutan irama tembang Jawa: Irama tembang Pangkur. Namun Gombloh menyanyikan lirik tembang itu dalam konteks budaya masa yang kala itu tengah populer dan menjadi ‘demam’ dunia, yakni lagu Rock.

Lirik bait tembang Wedhatama itu adalah berisi pesan nilai religius/keagamaan bahwa seorang pemimpin haruslah memiliki tiang agama yang kokoh agar terhindar dari angkara (keburukan). Isi sebagai berikut:

Mingkar mingkuring angkara

Akarana karenan mardi siwi

Sinawung resmining kidung

Sinuba sinukarta

Mrih kretarta pakartining ngèlmu luhung (oleh Gombloh menjadi: aduh Gusti pakartaning ngelu)

Kang tumrap ning tanah Jawa

Agama ageming aji

Artinya:

Berpaling dari hasrat jahat

karena kegemaran mendidik anak

tersaji dalam kidung nan indah

terhias terbentuk anggun agar

terlaksana pelaksanaan ilmu luhur

yang di tanah Jawa

agamanya para raja

Adanya lagu yang bagi sebagian orang Jawa sudah identik dengan mantra ini menarik peneliti Amerika Nancy K Florida. Dalam buku legendaris soal kazanah sastra Jawa ‘Menyurut Yang Silam Menggurat Yang Menjelang’,  dia menulis syait tembang itu ketika dinyanyikan oleh Gombloh bersama band nya ‘Lemon Trees’.

Menurut Nancy K Florida, sebetulnya nada tersebut tersaji dengan jauh lebih baik (tanpa diterjemahkan) dalam semesta pemaknaan yang lain oleh mendiang penyanyi pop Indonesia, Gombloh. Gombloh mengarang lagunya dengan mengangat empat lirik pertama bait itu (Wedhatama) dan mencangkokannya ke dalam mantra Jawa-Hindu yang bahkan lebih tak terpahami lagi.

Dinyanyikan dalam melodo rock dalam irama mengharukan, kata-kata misterius tersebut mengubah suatu rasa ‘tradisi’ yang lantas membuka sebuah lagu rock. (lagu Gombloh ini adalah berjudul ‘Sekar Mayang’, di rekam oleh Indra Record Surabaya tahun 1980).

Menurut Nancy, mereka yang mendengar dan mengulang larik-larik Wedhatama ini dalam lagu Gombloh tersebut memang tidaklah berharap untuk memahaminya, melainkan menghargainya sebagai mantra "kejawaan’, yang justru itulah kenyataan larik tersebut sekarang — bukan hanya dalam lagu Gombloh, tapi dalam kesadaran populer keseharian.

Ya mudah-mudahan saja masih ada telinga yang sudi mendengarkan nasihat Wedhatama yang dinyanyikan gombloh itu. Ingat ya: Ojo adigang, adigung, adiguno.

 

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement